karena cerpen gw salah. jadi harus gw ulang. nah..inilah hasilnya
“Kalau kamu tidak ikut wisuda, ibu tidak mau kenal lagi sama kamu” kata Bu Herdiani. “Yah. Ibu, jangan sepeti itu. Saya kan hanya tidak ikut wisuda” kataku. “Pokoknya kalau kamu sampai tidak ikut wisuda, ibu tidak mau kenal sama kamu lagi!” kata Bu Herdiani. “Ya sudahlah. Saya Tanya teman saya dulu. Apakah saya dapat mengikuti pertandingan di pertengahan” kataku. “Ibu tunggu ya keputusanmu”kata Bu Herdiani.
Kejadian dan kata – kata oleh Bu Herdiani terngiang – ngiang di kepalaku. Saat itu aku dihadapkan dengan masalah besar. Saat itu menjelang wisuda kelulusanku, tetapi saat itu juga menjelang turnamen igo terbesar di Indonesia yaitu Indonesia Go Championship (IGC). Apalagi turnamen tersebut adalah IGC yang pertama kalinya. Jadi bagiku yang adalah panitia dan anggota organisasi, turnamen tersebut sangatlah penting. Tetapi Bu Herdiani adalah guru favoritku. Aku tidak ingin beliau marah terhadapku. Oleh karena itu, aku dituntut untuk ikut keduanya, tetapi hal tersebut tidak mungkin, karena dalam waktu yang bersamaan. Aku berpikir keras selama berhari – hari. Akhirnya aku memutuskan untuk mengikuti keduanya. Aku memutuskan untuk mengikuti wisuda kelulusanku, setelah itu aku mengikuti turnamenku. Untungnya Bu Herdiani dan temanku mengijinkanku untuk mengikuti acara tersebut setengah – setengah.
Menjelang hari bersejarah tersebut, aku tidak bisa tenang. Akhirnya tibalah hari bersejarah tersebut. Saat itu aku mengenakan kebaya berwarna putih dan menggunakan toga. Aku pergi ke sekolah bersama mamaku. Aku tidak bisa berhenti melihat jamku. Sungguh aku tidak dapat sabar. Akhirnya tibalah waktuku untuk memasuki ruangan wisuda yang terletak di aula SMPku. Aku duduk disamping temanku yang bernama Intan. Saat itu, kakiku tidak bisa berhenti bergetar. Aku sangat tegang. Temanku menenangkan diriku. Aku menjadi sedikit tenang. Satu per satu temanku dipanggil ke depan. Akhirnya tibalah giliranku. Aku maju ke depan lalu bersalaman dengan wali kelasku dan kepala sekolah. Setelah difoto, aku kembali ke tempat dudukku. Kebetulan, Intan saat itu membawa handphonenya. Aku meminta ijin untuk meminjam handphonenya. Untungnya dia meminjamkannya kepadaku. Aku langsung menelpon mamaku, lalu aku keluar dari ruangan aula tersebut. Aku berlari ke kamar mandi untuk segera ganti baju. Aku mengganti bajuku dengan celana jeans, kaos, dan jaket kesayanganku. Aku langsung berlari keluar dari sekolah. Aku segera masuk ke dalam mobil lalu aku berangkat ke Japan Foundation.
Sebelum ke Japan Foundation aku pergi ke suatu restoran untuk mengambil makanan pesananku. Kebetulan saat itu aku adalah seksi konsumsi. Selesai dari tempat tersebut aku segera ke Japan Foundation. Untungnya saat itu adalah hari Sabtu, sehingga jalanan tidak macet. Sesaat sebelum sampai disana, aku menelpon temanku untuk membantuku membawakan makanan. Sesampainya disana temanku sudah menungguku di luar gedung. Aku memintanya untuk membawakan makanan sedangkan aku segera mengisi daftar pengunjung lalu berlari ke tempat pertandingan.
Perasaanku sangatlah tegang. Saat dalam perjalanan menuju ruang pertandingan, aku bertemu dengan temanku, lalu dia berkata kepadaku “Sandan, uda kalah 2 ronde. Kalah WO”. Lalu aku bertanya “masi bisa ikut kan?”. “Iya” jawab temanku. Saat aku datang, aku sudah dihadapkan dengan ronde ketiga. Meskipun saat itu aku cukup kesal karena tidak dapat mengikuti dari awal, tetapi apa boleh buat. Yang penting aku bisa mengikutinya. Aku dapat memenangkan pertandingan tersebut dengan mudah. Setelah makan siang, aku mengikuti pertandingan kembali. Aku dapat memenangkan kembali dengan mudah. Lawanku yang terberat adalah lawan terakhirku. Seharusnya ia lebih kuat dariku, hanya saja aku beruntung sehingga dapat membalikkan keadaan. Di tengah pertandingan tersebut, aku merasa seakan aku terhisap kedalam dunia yang hanya terdapat aku, lawanku, papan igo, batu putih, dan batu hitam. Suara batu yang diletakkan di atas papan menggema di kepalaku. Bahkan, ruangan yang waktu itu dingin, terasa panas akibat tekanan yang kudapat pada pertandingan. Aku tidak menyadari orang – orang di sekelilingku yang memerhatikan pertandinganku. Setelah pertandingan berakhir, aku cukup kaget melihat mereka dan berbicara di dalam hati “sejak kapan jadi ramai seperti ini?”. Aku sangat puas dengan pertandinganku yang terakhir, karena aku dapat membalikkan keadaan. Temanku yang bernama Digikid berbicara kepadaku “Sandan, selamat ya. Sandan hebat nih. Bisa membalikkan keadaan”. Tidak hanya Digikid yang berbicara seperti itu, temanku yang lainnya juga banyak yang berbicara seperti itu.
Akhirnya IGC I telah berakhir. Temanku yang bernama Fye menjadi pemenangnya. Yang menjadi juara kedua dan ketiga adalah Saint dan Dnaigo. Peringkatku berada di pertengahan, karena pada dua pertandingan pertama, aku kalah WO.
Hari itu sangatlah menegangkan, tetapi aku sangat senang. Keringat yang bercucuran, otak yang berputar dengan keras, dan tekanan didalam pertandingan sangat menyenangkan. Selain itu, saat IGC ada temanku dari luar kota yang mengikuti pertandingan tersebut. Aku sudah lama ingin bertemu dengannya. Setelah bertahun – tahun menunggu, akhirnya aku dapat bertemu dengannya. Yang menyenangkan dari hari tersebut adalah selain bertemu dengan temanku yang dari luar kota, aku dapat bertemu dengan teman – teman SMP ku untuk yang terakhir kalinya sebelum memasuki SMA. Hanya saja, aku sedikit sedih, karena tidak mempunyai foto wisuda kelasku dan rivalku yang bernama Nana tidak dapat mengikuti pertandingan tersebut, tetapi apa yang telah kudapat hari ini sudah cukup membuatku senang. Aku berharap aku dapat mengikuti IGC berikutnya dan berusaha sebisaku. Tidak hanya itu, aku juga berharap dapat bermain di IGC berikutnya dengan rival terbesarku yang juga merangkap sebagai kakakku yaitu Nana.
No comments:
Post a Comment